JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika diperkirakan akan mengalami tekanan dalam pembukaan pasar pada hari Senin, 18 Mei. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa kurs rupiah akan berada di kisaran Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per USD. “Kecenderungan ini menunjukkan kemungkinan penutupan yang melemah,” ungkap Ibrahim pada Minggu, 17 Mei.
Ketidakpastian di pasar global menjadi faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini. Ibrahim menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai negosiasi dengan Iran yang saat ini dianggap kritis. Pernyataan ini kembali menimbulkan kepanikan di kalangan investor, terutama terkait potensi gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi minyak vital bagi dunia.
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa ketegangan yang meningkat dengan Iran mulai memberikan dampak negatif terhadap perekonomian AS. Hal ini terlihat dari harga minyak yang melonjak, yang pada gilirannya membuat harga bahan bakar semakin mahal. “Para ekonom memperkirakan dampak dari situasi ini akan semakin terasa dalam beberapa bulan ke depan,” jelas Ibrahim.
Di samping isu terkait Timur Tengah, perhatian investor juga tertuju pada pertemuan antara Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping, yang dijadwalkan berlangsung di Beijing pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan sinyal positif bagi hubungan perdagangan antara kedua negara, yang selama ini menjadi perhatian utama pasar global.
Dengan situasi yang tidak menentu ini, pelaku pasar di Indonesia diharapkan tetap waspada terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah. Pengamat ekonomi menyarankan agar masyarakat tetap memantau perkembangan berita terkini, terutama yang berkaitan dengan kebijakan ekonomi global dan regional yang bisa memengaruhi nilai tukar mata uang kita.
